TAPSEL| Jelajahnews.id - Empat tahun setelah tujuh narapidana melarikan diri dari Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, lima di antaranya hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Kelima narapidana tersebut adalah Enda Muda Lubis, Syamsul Harahap, Jonri Batubara, Muhammad Ramadan alias Madan, dan Mara Hakim Dalimunthe alias Bayo. Mereka diketahui mayoritas merupakan narapidana kasus narkotika.
Sementara itu, dua narapidana lainnya, yakni Muhammad Hatta Harahap dan Pian Nasution, berhasil ditangkap kembali tidak lama setelah kabur pada November 2022.
Belum adanya informasi resmi mengenai perkembangan pencarian lima narapidana tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan proses pengejaran oleh aparat penegak hukum.
Saat dikonfirmasi pada Jumat (17/7/2026), Kepala Rutan kelas IIB Sipirok, Hery Sugiarti, tidak dapat ditemui. Salah seorang petugas lapas, bernama Pandapotan menyarankan agar permintaan konfirmasi disampaikan melalui akun Instagram resmi Rutan Sipirok.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Lapas Sipirok maupun instansi terkait mengenai apakah kelima narapidana tersebut masih berstatus dalam daftar pencarian atau telah ada perkembangan lain dalam penanganan kasus tersebut.
Sebelumnya, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara saat itu, Erwedi, menyatakan dua dari tujuh narapidana yang kabur telah berhasil ditangkap kembali.
"Untuk sementara dua orang sudah kami tangkap kembali," kata Erwedi saat dikonfirmasi pada Selasa (8/11/2022).
Menurut Erwedi, penangkapan dilakukan di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan dengan melibatkan petugas pemasyarakatan, Polres Tapanuli Selatan, dan Polda Sumatera Utara. Sementara lima narapidana lainnya masih dalam pengejaran.
Peristiwa pelarian itu terjadi pada Senin dini hari, 7 November 2022. Ketujuh narapidana diduga melarikan diri dengan menjebol tembok toilet di dalam kamar hunian.
Saat itu, terdapat 16 warga binaan di dalam kamar tersebut. Setelah berhasil membuat lubang pada dinding toilet, ketujuh narapidana keluar menuju bagian belakang rutan, kemudian memanjat dan melompati tembok pembatas untuk melarikan diri.
Petugas jaga disebut telah melakukan pemeriksaan sekitar pukul 03.10 WIB dan belum menemukan tanda-tanda pelarian.
Namun, saat pemeriksaan kembali sekitar pukul 03.40 WIB, petugas mendapati tembok toilet telah dijebol dan tujuh narapidana sudah tidak berada di dalam kamar.
Awak media masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak Direktorat Jenderal Pemasyarakatan maupun Kepolisian terkait perkembangan pencarian lima narapidana yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. (JN-Irul)