Senin, 25 Mei 2026 WIB

Wali Kota Medan Ajak Mahasiswa USU Siapkan Diri Jadi Pemimpin Masa Depan

editor - Kamis, 30 April 2026 20:27 WIB
Wali Kota Medan Ajak Mahasiswa USU Siapkan Diri Jadi Pemimpin Masa Depan
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas

MEDAN -Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengajak mahasiswa, khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), untuk berani bercita-cita menjadi pemimpin masa depan. Ajakan tersebut disampaikannya dalam kegiatan bedah buku Babad Alas karya Bima Arya di Gedung Digital Learning Center Universitas Sumatera Utara (USU), Kamis (30/4/2026).

Kegiatan ini turut dihadiri penulis buku Bima Arya beserta istri, Rektor USU Muryanto Amin, serta ratusan mahasiswa yang mengikuti diskusi secara langsung.

Dalam sambutannya, Rico menilai buku Babad Alas bukan sekadar autobiografi, melainkan catatan perjalanan kepemimpinan yang dapat menjadi referensi bagi generasi muda. Ia menekankan pentingnya membangun kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat serta berorientasi pada solusi.

Baca Juga:
"Bangsa ini membutuhkan pemimpin-pemimpin baik, dan itu ada pada kalian. Negara ini ke depan ada di tangan anak muda," ujar Rico.

Menurutnya, forum bedah buku seperti ini memiliki peran penting dalam membuka wawasan mahasiswa, terutama terkait nilai-nilai kepemimpinan dan tantangan yang akan dihadapi di masa depan.

Sementara itu, Bima Arya dalam pemaparannya menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki ideologi yang kuat sebagai landasan berpikir dan bertindak. Ia menyebut tanpa ideologi yang jelas, seorang pemimpin akan mudah terpengaruh dan tidak konsisten dalam mengambil keputusan.

Ia menjelaskan bahwa pandangan ideologisnya terbentuk dari pemikiran sejumlah tokoh nasional, seperti Soe Hok Gie, Arief Budiman, Nurcholish Madjid, hingga Abdurrahman Wahid. Nilai-nilai dari tokoh tersebut, menurutnya, membentuk perspektif tentang keberagaman, integritas, dan keberanian dalam kepemimpinan.

Selain ideologi, Bima juga menyoroti pentingnya strategi dalam menjalankan kepemimpinan. Ia memperkenalkan konsep "mencicil harapan", yaitu menghadirkan perubahan secara bertahap agar masyarakat dapat merasakan manfaat nyata sejak awal masa jabatan.

"Pemimpin itu agen harapan. Harapan harus dikelola dan dipenuhi secara bertahap," kata Bima.

Ia menambahkan, pemimpin juga harus mampu mengelola berbagai kepentingan, baik dari pemerintah, aparat, maupun kelompok masyarakat. Dalam hal ini, diperlukan batasan yang jelas untuk menjaga integritas sekaligus membedakan antara kepentingan dan ketulusan.

Lebih lanjut, Bima menekankan pentingnya membangun dukungan politik secara seimbang, mulai dari akar rumput, kelas menengah, hingga kalangan elit. Menurutnya, keseimbangan tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kepemimpinan.

Dalam konteks birokrasi, ia menyebut pemimpin perlu memahami karakter setiap anggota tim agar mampu menerapkan pendekatan yang tepat, sehingga kinerja organisasi dapat berjalan optimal.

Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa yang aktif mengajukan pertanyaan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang literasi, tetapi juga sarana refleksi bagi generasi muda untuk memahami nilai, tantangan, dan tanggung jawab dalam kepemimpinan.

Editor
: editor
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru