Rabu, 29 Juli 2026 WIB

Bobby Nasution Tegaskan Pembangunan Jalan Sipiongot untuk Akhiri Keterisolasian, Warga Beri Upah-upah sebagai Bentuk Syukur

editor - Minggu, 28 Juni 2026 00:12 WIB
Bobby Nasution Tegaskan Pembangunan Jalan Sipiongot untuk Akhiri Keterisolasian, Warga Beri Upah-upah sebagai Bentuk Syukur
Bobby Nasution

MEDAN -Pembangunan jalan di kawasan Sipiongot, Kabupaten Padang Lawas Utara, menjadi harapan baru bagi masyarakat yang selama puluhan tahun menghadapi keterisolasian akibat minimnya infrastruktur. Perubahan tersebut mendorong masyarakat memberikan upah-upah, tradisi adat Batak sebagai bentuk doa dan rasa syukur, kepada Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution.

Prosesi itu berlangsung di kediaman Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara Ihwan Ritonga, Kompleks Menteng Indah, Medan, Minggu (28/6/2026), dalam rangkaian kegiatan pengajian Ikatan Keluarga Dolok Sipiongot dan Sekitarnya (IKDS).

Bagi masyarakat Sipiongot, pembangunan jalan bukan sekadar proyek infrastruktur. Jalan yang mulai dibangun dinilai menjadi simbol berakhirnya puluhan tahun keterisolasian yang selama ini menghambat mobilitas warga, distribusi hasil pertanian, serta akses terhadap berbagai layanan dasar.

Baca Juga:
Wakil Ketua DPRD Sumut Ihwan Ritonga mengatakan pembangunan yang tengah berlangsung menjadi titik balik bagi Sipiongot setelah lebih dari delapan dekade belum menikmati pembangunan jalan secara menyeluruh.

"Selama 12 tahun saya di DPRD terus mengawal persoalan ini. Dulu dibangun sedikit demi sedikit, dua kilometer, lima kilometer, tetapi tidak pernah tuntas. Sekarang jalan yang menghubungkan daerah terisolasi langsung ditangani secara serius," ujar Ihwan.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengalokasikan anggaran sekitar Rp283 miliar untuk pembangunan dan perbaikan 13 ruas jalan di kawasan Sipiongot dan sekitarnya.

Ia menilai pembangunan tersebut mulai memberikan dampak nyata. Akses transportasi yang sebelumnya sulit kini perlahan terbuka, mobilitas masyarakat menjadi lebih lancar, dan peluang pertumbuhan ekonomi semakin besar.

"Dulu daerah ini sering disebut tertinggal. Sekarang masyarakat merasa diperhatikan dan memiliki harapan baru untuk masa depan," katanya.

Dalam dialog bersama masyarakat, sejumlah warga menyampaikan pengalaman mengenai sulitnya kondisi yang mereka hadapi selama bertahun-tahun akibat buruknya infrastruktur jalan.

Kepala Desa Janji Manahan, Ali Mutarman Dalimunthe, mengaku masih mengingat masa kecilnya ketika harus berjalan kaki sambil memikul hasil panen menuju Pasar Sipiongot melalui jalan berlumpur.

"Saya lahir tahun 1980. Saat kelas enam SD kalau ke Pasar Sipiongot harus berjalan kaki sambil memikul hasil panen. Jalannya berlumpur dan sangat berat dilalui," ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Siburbur, Sahbuddin Ritonga. Ia mengatakan masyarakat selama ini membutuhkan waktu hingga tiga jam untuk menempuh perjalanan sekitar lima kilometer menuju pasar tradisional.

Kondisi tersebut menyebabkan biaya distribusi hasil pertanian dan perkebunan menjadi tinggi sehingga harga jual komoditas, termasuk kelapa sawit, lebih rendah dibandingkan daerah lain yang memiliki akses transportasi lebih baik.

Masyarakat berharap pembangunan jalan dapat terus dilanjutkan sehingga aktivitas ekonomi semakin berkembang, biaya distribusi menurun, dan kesejahteraan warga meningkat.

Menanggapi apresiasi masyarakat, Bobby Nasution menegaskan bahwa pembangunan jalan merupakan kewajiban pemerintah, sehingga tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang luar biasa.

Namun demikian, Bobby mengaku memiliki pengalaman yang membekas ketika pertama kali meninjau langsung kondisi Sipiongot. Saat itu, ia melintasi kawasan tersebut pada dini hari ketika akses jalan masih sangat sulit dilalui.

"Saya pernah lewat jam dua pagi. Di tengah jalan kendaraan kami terpacak, tidur di tengah hutan. Baru sekali itu saya melihat kondisi kampung yang membuat saya menangis di tempat sejak menjadi kepala daerah," ungkap Bobby.

Pengalaman tersebut, menurut Bobby, semakin menguatkan tekadnya untuk mempercepat pembangunan jalan di kawasan Sipiongot.

"Jalan Sipiongot dibangun karena masyarakat membutuhkannya. Jangan ada lagi istilah daerah tertinggal atau daerah yang seolah tidak masuk dalam peta pembangunan," tegasnya.

Selain pembangunan infrastruktur jalan, Bobby juga menyampaikan komitmennya untuk menyiapkan program beasiswa bagi putra-putri Sipiongot agar memiliki kesempatan yang lebih luas melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berharap pembangunan jalan di Sipiongot tidak hanya meningkatkan konektivitas antarwilayah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas akses terhadap pelayanan publik, serta membuka peluang pendidikan dan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat. Bagi warga Sipiongot, perubahan yang kini mulai dirasakan menjadi awal dari berakhirnya keterisolasian yang telah berlangsung selama puluhan tahun.(jns)

Editor
: editor
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru