Senin, 25 Mei 2026 WIB

Pimpin Apel HKB 2026, Wakil Wali Kota Medan Tekankan Kesiapsiagaan Nyata Hadapi Banjir

editor - Minggu, 26 April 2026 22:44 WIB
Pimpin Apel HKB 2026, Wakil Wali Kota Medan Tekankan Kesiapsiagaan Nyata Hadapi Banjir
Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap

MEDAN -Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bencana sebagai langkah nyata, bukan sekadar seremoni, dalam Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 di Lapangan Avros, Kecamatan Medan Maimun, Minggu (26/4/2026).

Dalam amanatnya, Zakiyuddin mengingatkan bahwa Kota Medan harus belajar dari kejadian banjir yang terjadi dua tahun berturut-turut, termasuk banjir besar pada November 2025 yang disebutnya sebagai peristiwa terparah yang pernah ia saksikan.

"Kita harus benar-benar merenungkan mengapa ini terjadi. Dari tiga provinsi terdampak, hanya kota besar di Sumatera Utara, yakni Medan, yang terendam. Artinya ada persoalan pada sistem aliran sungai kita," ujar Zakiyuddin.

Baca Juga:
Apel tersebut dihadiri Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan Yunita Sari, sejumlah pimpinan perangkat daerah, serta berbagai unsur, seperti TNI, Polri, organisasi perangkat daerah (OPD), Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka, Kelurahan Tangguh Bencana (Katana), relawan, dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Zakiyuddin menjelaskan bahwa permasalahan banjir di Medan tidak hanya disebabkan faktor curah hujan, tetapi juga kondisi drainase yang tersumbat, aliran sungai yang terganggu, serta kemungkinan pengaruh dari wilayah hulu.

Ia juga menyoroti pentingnya peran kepala lingkungan (kepling) dalam mitigasi bencana. Menurutnya, kepling merupakan pihak yang paling memahami kondisi wilayah dan harus aktif mengedukasi masyarakat.

"Masih banyak parit yang tersumbat. Bagaimana air bisa mengalir jika salurannya tidak berfungsi. Kepling yang paling mengetahui kondisi tersebut," katanya.

Selain itu, Zakiyuddin mengungkapkan bahwa minimnya pemahaman masyarakat saat banjir besar terjadi menyebabkan proses evakuasi tidak berjalan optimal. Oleh karena itu, ia mendorong penerapan sistem peringatan dini sederhana yang mudah dipahami warga.

Dalam apel tersebut, dilakukan pemukulan kentongan pada pukul 10.00 WIB sebagai simbol kesiapsiagaan. Ia meminta setiap lingkungan memiliki alat peringatan seperti kentongan atau sirene sebagai penanda bahaya.

"Kita berharap setiap lingkungan memiliki sistem peringatan dini agar masyarakat dapat segera bersiap saat bencana terjadi," ujarnya.

Zakiyuddin juga menyoroti persoalan klasik yang memperparah banjir, seperti kebiasaan membuang sampah ke sungai dan parit, serta keberadaan bangunan liar di bantaran sungai yang menghambat aliran air.

"Kondisi sungai, gorong-gorong, dan parit yang kotor adalah fakta di lapangan yang harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya pemerintah," tegasnya.

Ia menekankan bahwa peringatan HKB harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran kolektif dan memperkuat edukasi kebencanaan agar banjir tidak terus berulang setiap tahun.

"Peringatan ini bukan untuk mengharapkan bencana, tetapi sebagai pengingat bahwa bencana bisa terjadi kapan saja. Masyarakat harus menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah ke sungai," ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Medan Yunita Sari menyampaikan bahwa HKB 2026 mengusung tema "Siap untuk Selamat" dengan subtema "Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana".

Ia menambahkan, peringatan tahun ini tidak hanya berupa apel, tetapi juga diisi dengan aksi nyata, seperti gotong royong membersihkan Sungai Deli sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana.

Editor
: editor
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru