Sejak 2020 UNESCO Tetapkan Geopark Kaldera Toba, Mau Dibawa Kemana?

TOBA – Sejak Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) PBB menetapkan kawasan Danau Toba sebagai ‘UNESCO Global Geopark’ pada tahun 2020, semua termasuk Pemerintah RI menyakini bahwa penetapan itu sebagai cikal bakal menjadi salah satu Destinasi Wisata Paling Prioritas.

Penetapan kawasan ini oleh UNESCO bukan tanpa alasan atau syarat, sebab harus memenuhi beberapa kriteria, termasuk pemenuhan sarana dan prasarana bertaraf internasional dimana Pemerintah Kabupaten yang meliputi 7 Pemkab harus terlibat dan dilibatkan.

Atas alasan itulah Walden Nadeak sang pencipta lagu “Geopark Kaldera Toba” menyiarkan moment diskusi ini pada Channel youtube Walden Production menggelar Forum Diskusi Wisata Geopark Kaldera Toba New Normal di Geopark Cafe & Resto, Laguboti Kabupaten Toba, Sabtu (26/3/2022).

Bertindak sebagai Narasumber adalah Ketua Harian Geopark Kaldera Toba, Mangindar Simbolon, Kadis Pariwisata dari Kabupaten Toba Rusty Hutapea, Kabupaten Samosir Tetty Naibaho, Kabupaten Taput Benny Simanjuntak dan Humbahas Harapan Sibarani.

Walden Nadeak kepada jelajahnews.id menjelaskan, forum diskusi yang digagas tersebut juga melibatkan Pemkab se-kawasan Danau Toba, dalam rangka menyamakan persepsi, sekaligus mengevaluasi langkah-langkah apa yang sudah atau belum dilaksanakan oleh masing-masing Pemkab sebagaimana enam poin dalam rekomendasikan UNESCO.

“Dua tahun kedepan akan ada penilaian dan evaluasi dari pihak UNESCO terkait enam poin yang mereka rekomendasikan di wilayah Geopark Kaldera Toba. Jadi dalam diskusi ini, kita dan publik akan mengetahui langkah-langkah kongkrit seperti apa yang telah, dan akan dilakukan oleh masing-masing Pemkab dalam mendukung kawasan ini menjadi salah satu kawasan strategis Nasional,” papar Walden Nadeak dengan mimik serius.

Sesaat sebelum diskusi dimulai, Walden Nadeak selaku Ketua penyelenggara menjelaskan, tujuan melaksanakan diskusi ini adalah dalam rangka sosialisasi Geopark Kaldera Toba, dan nantinya akan terjun ke sekolah-sekolah dan para Kepala Desa untuk memperkenalkan Geopark (Taman Dunia) secara langsung.

“Semoga pandemi ini segera berlalu, dan pemerintah segera menetapkan kawasan ini menjadi new normal. Hasil dari diskusi kita hari ini, menjadi masukan bagi kami dalam melakukan sosialisasi kepada para siswa dan Kepala Desa, dan nantinya kita juga akan menyediakan produk-produk hasil dari kawasan Geopark dan secara virtual akan mengenalkan 16 Geosite yang ada di kawasan Geopark Kaldera Toba. Semoga kawasan ini dapat membawa berkah bagi kita dan seluruh masyarakat sekawasan Danau Toba,” sebut Walden Nadeak.

Ketua Harian Geopark Kaldera Toba, Mangindar Simbolon dalam paparannya menjelaskan sejarah historis terjadinya letusan gunung Toba yang pada akhirnya melahirkan Danau Toba.

“Letusan gunung Toba yang terjadi ribuan tahun lalu adalah sebuah letusan paling dashyat di dunia, menjadikan dunia gelap selama sembilan tahun. Dan karena letusan itu, pada akhirnya melahirkan keragaman biologi, hayati dan budaya dan oleh UNESCO ditetapkan sebagai Geopark (Taman Bumi) berstatus warisan dunia,” terangnya.

Lebih jauh, lanjut Mangindar mengatakan, bahwa tiga keragaman alam itu antara lain geologi (geodiversity), hayati (biodiversity), dan budaya (cultural diversity) merupakan konsep menagamen pengembangan kawasan Geopark dan berkelanjutan yang harus terus digali dan dikembangkan, mengingat akan ada penilaian dari UNESCO, dimana penilaian itu terdiri dari tiga tahap.

“Penilaian itu ada berupa kartu hijau, ada kartu kuning, jangan sampai kita mendapat kartu merah,” harapnya.

Turut hadir dalam diskusi ini, yakni pengurus dari Batak Center-Jakarta, SM Tampubolon (Ketua umum), Parlin Sianipar (Intelektual Thinkthank) dan Joyce Manik (Ketua bidang Kebudayaan), Sekda Toba, beberapa Kepala Bidang (Kabid), undangan lain beberapa perwakilan sekolah, sanggar tari yang ada di wilayah Toba. (JJ)