Sabtu, 08 Agustus 2026 WIB

Niat Berteduh di Pulau Talam, Wali Kota Sibolga Malah Dicurhati Nelayan soal Kapal Jarin

Irul Daulay - Sabtu, 08 Agustus 2026 04:31 WIB
Niat Berteduh di Pulau Talam, Wali Kota Sibolga Malah Dicurhati Nelayan soal Kapal Jarin
Foto: Wali Kota Sibolga Akhmad Syukri Nazry Penarik (baju hitam) berbincang dengan nelayan di Pulau Talam, Kamis (6/8/2026).

SIBOLGA | Jelajahnews.id - Niat awal hanya mencari tempat berlindung dari cuaca buruk justru membawa Wali Kota Sibolga Akhmad Syukri Nazry Penarik bertemu langsung dengan para nelayan tradisional.

Pertemuan tak sengaja itu terjadi di Pulau Talam, Perairan Tapanuli Tengah, Kamis (6/8/2026) sekitar pukul 11.20 WIB.

Saat itu, Akhmad Syukri bersama rombongan tengah memancing di sekitar kawasan Pulau Mursala. Namun, kondisi cuaca yang memburuk membuat rombongan memilih menepi dan berteduh di Pulau Talam.

Rombongan kemudian singgah di sebuah warung milik warga bernama Pak Zega. Kehadiran Wali Kota Sibolga di tengah aktivitas para nelayan tersebut sempat membuat warga terkejut.

Pasalnya, mereka tak menyangka sosok yang datang berteduh merupakan orang nomor satu di Kota Sibolga.

Namun, suasana segera mencair. Perbincangan berlangsung santai dan akrab, terlebih masyarakat mengetahui Akhmad Syukri dikenal memiliki hobi memancing dan cukup dekat dengan masyarakat.

Dari pertemuan sederhana tersebut, para nelayan kemudian memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi saat mencari ikan di laut.

Nelayan Keluhkan Kapal Jaring Hela

Salah seorang perwakilan nelayan, Gimar, menyampaikan keluhan terkait aktivitas kapal penangkap ikan yang menggunakan Jaring Hela Ikan Berkantong (JHIB).

Menurut Gimar, kapal-kapal tersebut disebut kerap memasuki wilayah yang menjadi zona tangkap nelayan tradisional.

Tak hanya mengganggu aktivitas nelayan kecil, keberadaan kapal tersebut juga dikeluhkan karena diduga menyebabkan sejumlah rumpon milik nelayan mengalami kerusakan.

Rumpon sengaja dipasang nelayan sebagai tempat berkumpulnya ikan sehingga keberadaannya sangat penting untuk membantu meningkatkan hasil tangkapan.

"Sebagian besar rumpon yang kami tebar rusak. Satu unit rumpon biayanya sekitar Rp700 ribu. Kami mohon Pak Wali membantu menertibkan kapal jaring hela agar tidak masuk ke zona nelayan kecil," ujar Gimar.

Kerusakan rumpon, lanjutnya, menjadi beban tersendiri bagi nelayan tradisional. Mereka harus kembali mengeluarkan biaya untuk membuat dan memasang rumpon baru.

Para nelayan berharap pemerintah dapat mengambil langkah agar aktivitas kapal dengan alat tangkap tersebut tidak mengganggu wilayah tangkap nelayan kecil.

Minta Bantuan Pengadaan Rumpon

Selain mengeluhkan aktivitas kapal jaring hela, para nelayan juga menyampaikan harapan agar Pemerintah Kota Sibolga dapat membantu pengadaan rumpon.

Bantuan tersebut dinilai dapat membantu nelayan tradisional meningkatkan hasil tangkapan sekaligus mendukung keberlangsungan usaha mereka di tengah kondisi laut yang semakin menantang.

Meski Pulau Talam secara administratif berada di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, para nelayan tetap meminta Wali Kota Sibolga membantu menyampaikan aspirasi mereka kepada instansi yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan di laut.

Wali Kota Janji Perjuangkan Aspirasi Nelayan

Mendengar keluhan tersebut, Wali Kota Sibolga Akhmad Syukri menyatakan prihatin dengan kondisi yang disampaikan para nelayan.

Ia menegaskan, sebagai kepala daerah, dirinya berkewajiban memperjuangkan aspirasi masyarakat, termasuk para nelayan tradisional yang sebagian besar merupakan warga Kota Sibolga.

"Saya prihatin dengan kondisi ini. Bapak-bapak adalah nelayan kecil dan penduduk Kota Sibolga. Sebagai Wali Kota, aspirasi ini wajib saya perjuangkan," tegas Akhmad Syukri

Ia juga menyatakan siap membantu para nelayan dalam pembuatan maupun pengadaan rumpon.

Menurutnya, bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi nelayan, terutama dalam meningkatkan hasil tangkapan dan pendapatan mereka.

Selain itu, Akhmad Syukri mengimbau kapal-kapal penangkap ikan yang menggunakan Jaring Hela Ikan Berkantong agar tidak memasuki wilayah tangkap nelayan kecil.

Ia juga mengingatkan agar aktivitas penangkapan ikan tidak sampai merusak rumpon yang telah dipasang oleh nelayan tradisional.

Minta Pengawasan Diperketat

Akhmad Syukri mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), untuk mendorong peningkatan pengawasan di wilayah perairan tersebut.

Menurutnya, pengawasan perlu dilakukan secara rutin untuk memastikan aktivitas penangkapan ikan berlangsung sesuai ketentuan, termasuk berdasarkan zona tangkap dan jenis alat tangkap yang digunakan.

Pertemuan yang awalnya terjadi karena cuaca buruk itu pun berubah menjadi kesempatan bagi nelayan menyampaikan langsung persoalan mereka kepada kepala daerah.

Dari sebuah warung sederhana di Pulau Talam, aspirasi nelayan akhirnya sampai langsung ke telinga Wali Kota Sibolga.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tapanuli Tengah maupun Sat Polairud Polres Tapanuli Tengah terkait pengawasan dan penertiban aktivitas kapal Jaring Hela Ikan Berkantong di wilayah tersebut. (JN-Hajrul/Abu)

Editor
: editor
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru