Jumat, 30 Januari 2026 WIB

Pagar SMPN 3 Angkola Selatan Roboh: Diduga “Alergi Kerikil”, Tak Kuat Menahan Anggaran Rp120 Juta

editor - Jumat, 30 Januari 2026 14:12 WIB
Pagar SMPN 3 Angkola Selatan Roboh: Diduga “Alergi Kerikil”, Tak Kuat Menahan Anggaran Rp120 Juta

TAPSEL | Jelajahnews.id - Pagar SMP Negeri 3 Angkola Selatan akhirnya tumbang lebih cepat dari harapan siswa menamatkan sekolah.

Proyek yang menelan anggaran hampir Rp120 juta itu justru menunjukkan performa tak jauh berbeda dari tumpukan batu kebun yang diplester ala kadarnya.

Padahal, di atas kertas, proyek Pembangunan Pagar Sekolah SMPN 3 Angkola Selatan tercatat rapi, lengkap, dan berstatus paket sudah selesai. Namun di lapangan, pagar tersebut malah selesai lebih dulu ambruk.

Hasil penelusuran awak media mendapati bahwa pagar sekolah ini diduga dibangun dengan ramuan khusus: semen secukupnya, pasir seperlunya, dan kerikil… entah ke mana.

Balok sloof yang seharusnya menjadi tulang punggung bangunan tampak tidak bersahabat dengan agregat kasar, seolah-olah kerikil adalah material terlarang.

Tak hanya itu, susunan batu pada dinding pagar terlihat seperti hasil tebakan bebas, tidak saling mengunci, tak rata, dan pada beberapa bagian bisa membuat orang bertanya: ini pagar atau puzzle gagal dirakit?

Besi tulangan pun tak mau kalah nyeleneh. Alih-alih terikat kokoh sesuai standar konstruksi, sambungan besi tampak sekadar disatukan dengan kawat, cukup kuat menahan harapan, tapi tidak untuk menahan beban.

Menariknya, setelah pagar roboh dan menuai sorotan, proyek tersebut langsung "disulap" kembali. Namun sayangnya, dari pantauan terbaru, perbaikan pagar justru terlihat sekadar berdandan, bukan berbenah.

Pola susunan batu masih tampak semrawut, mutu coran kembali dipertanyakan, seolah perbaikan dilakukan dengan prinsip: yang penting berdiri dulu.

Padahal, proyek ini memiliki nilai kontrak Rp119.667.000, dikerjakan oleh penyedia jasa atas nama Naramon Fajri, dengan metode pengadaan langsung, di bawah pengawasan Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan klasik yang selalu muncul di proyek publik:

Apakah pagarnya yang lemah, atau pengawasannya yang sedang libur panjang?

Masyarakat berharap, pagar sekolah tidak lagi dibangun dengan logika coba-coba, apalagi mengingat fungsinya menyangkut keamanan lingkungan pendidikan, bukan sekadar pelengkap laporan pertanggungjawaban.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak pelaksana maupun instansi terkait mengenai resep adukan apa sebenarnya yang digunakan, hingga pagar sekolah bisa roboh lebih cepat dari papan pengumuman sekolah diganti. (JN-Irul)

Editor
: Irul Daulay
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru