Jangan Terlalu Percaya Diri! Hairul Iman: Lengkapi Persyaratan Dulu, Soal Calon Ketua Tunggu Forum
Jelang Konferensi IX PWI Tabagsel Tahun 2026, dinamika pencalonan Ketua PWI Tabagsel mulai menjadi perhatian.
Daerah
P.SIDIMPUAN | Jelajahnews.id - Jelang Konferensi IX PWI Tabagsel Tahun 2026, dinamika pencalonan Ketua PWI Tabagsel mulai menjadi perhatian.
Mantan Ketua PWI Tabagsel periode ke-5 dan ke-6 yang kini menjadi Penasehat PWI Tabagsel, Hairul Iman Hasibuan, M.IKom., mengingatkan seluruh bakal calon maupun pihak yang terlibat dalam kepanitiaan agar tidak mendahului mekanisme konferensi.
Hairul Iman menegaskan, seseorang tidak bisa begitu saja mengklaim dirinya telah memenuhi syarat atau memastikan posisi tertentu sebelum seluruh tahapan konferensi dilalui.
Menurutnya, persyaratan calon memang telah diatur dalam PD/PRT PWI. Namun, proses penetapan seseorang sebagai calon Ketua PWI Tabagsel tetap harus mengikuti mekanisme dan persidangan konferensi.
"Persyaratan memang diatur dalam PD/PRT PWI, tetapi penetapan siapa yang memenuhi syarat sebagai calon secara sah dilakukan dalam forum konferensi, bukan sebelum konferensi," ujar Hairul Iman.
Lengkapi Persyaratan, Jangan Klaim Dulu
Hairul Iman menjelaskan, sebelum masuk ke tahap pemilihan, konferensi memiliki sejumlah tahapan yang harus dilalui.
Konferensi diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan sidang komisi yang membahas program kerja PWI Tabagsel ke depan.
Setelah itu, barulah masuk pada tahap pendaftaran bakal calon Ketua PWI Tabagsel.
Bakal calon harus memenuhi persyaratan yang ditentukan, termasuk memperoleh dukungan minimal lima suara anggota biasa.
Setelah persyaratan diverifikasi dan dinyatakan lolos melalui mekanisme konferensi, barulah yang bersangkutan sah menjadi calon dan dapat mengikuti kontestasi.
Karena itu, Hairul Iman meminta siapa pun yang berniat maju agar terlebih dahulu memastikan seluruh persyaratan terpenuhi.
"Jangan terlalu percaya diri. Lengkapi dulu persyaratannya. Soal siapa yang menjadi calon, itu ada mekanismenya dan ditentukan dalam forum," katanya.
Ia juga menyentil pihak yang sudah seolah-olah memastikan hasil konferensi sebelum konferensi digelar.
"Tidak tepat jika sebelum konferensi sudah ada pihak yang menyatakan, 'hanya saya dan dia yang memenuhi syarat, saya jadi ketua dan dia jadi sekretaris, selesai'. Menurut saya, itu terlalu percaya diri," ujarnya.
Dengan nada bercanda, Hairul Iman menambahkan:
"Yang menentukan bukan klaim pribadi, tetapi forum konferensi dan suara peserta. Iya kalau ada yang memilih, kalau tidak ada bagaimana?" katanya.
Panitia Jangan Lampaui Kewenangan
Tidak hanya kepada bakal calon, Hairul Iman juga memberikan perhatian terhadap posisi dan kewenangan panitia Konferensi IX PWI Tabagsel.
Menurutnya, panitia merupakan perpanjangan tangan Ketua PWI Tabagsel dan pengurus untuk mempersiapkan serta melaksanakan konferensi.
Panitia memiliki tanggung jawab dalam aspek teknis dan seremonial, termasuk memastikan seluruh kebutuhan pelaksanaan konferensi dipersiapkan dengan baik.
Namun, kata Hairul Iman, panitia bukan pihak yang berwenang menetapkan atau mengesahkan siapa yang memenuhi syarat sebagai calon Ketua PWI Tabagsel.
"Panitia pada prinsipnya bertugas menyiapkan dan melaksanakan aspek teknis serta seremonial konferensi. Panitia bukan pihak yang menetapkan atau mengesahkan siapa yang memenuhi syarat menjadi calon Ketua," tegasnya.
Ia meminta panitia bekerja maksimal, profesional, transparan dan tetap berada dalam koridor kewenangannya.
Penentuan Calon Ada di Forum
Hairul Iman kembali menegaskan bahwa meskipun PD/PRT PWI telah mengatur persyaratan pencalonan, penentuan dan pengesahan calon tetap harus dilakukan melalui mekanisme persidangan konferensi.
Dalam forum tersebut, PWI Sumut yang bertindak sebagai Steering Committee (SC) atau pimpinan sidang akan memandu jalannya persidangan serta memastikan aturan organisasi diterapkan.
Karena itu, menurut Hairul Iman, tidak boleh ada pihak yang mendahului keputusan forum.
"Jangan mendahului keputusan forum. Ikuti saja tahapan yang ada. Kalau semua berjalan sesuai aturan, saya kira konferensi akan berjalan baik," ujarnya.
Transparansi Penting, Kewenangan Harus Jelas
Sebagai Penasehat PWI Tabagsel, Hairul Iman menyatakan mendukung pelaksanaan konferensi yang transparan dan objektif.
Namun, transparansi harus berjalan beriringan dengan pembagian kewenangan yang jelas.
"Jangan sampai panitia mengambil kewenangan yang bukan menjadi tugasnya. Persyaratan memang bersumber dari PD/PRT, tetapi persoalan memenuhi atau tidak memenuhi syarat sebagai calon harus diputuskan sesuai mekanisme persidangan konferensi," katanya.
Ia berharap seluruh tahapan dapat disampaikan secara jelas kepada anggota agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun polemik.
Jadwal Konferensi Masih Perlu Koordinasi
Terkait jadwal Konferensi IX PWI Tabagsel, Hairul Iman menyebut saat ini baru terbentuk kepanitiaan sehingga jadwal pelaksanaan belum tentu langsung ditetapkan.
Menurutnya, persiapan konferensi organisasi bisa membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan.
Penjadwalan juga harus menyesuaikan agenda PWI Sumut dan PWI Pusat.
"Apalagi PWI Sumut sendiri sedang mempersiapkan Konferensi PWI Sumut yang dijadwalkan November ini. Jadi, semuanya harus melalui koordinasi dan penjadwalan organisasi secara berjenjang," jelasnya.
Jangan Bangun Opini Seolah Hasil Sudah Ditentukan
Hairul Iman juga mengimbau seluruh bakal calon dan peserta agar tidak membangun opini seolah-olah hasil konferensi sudah ditentukan sebelum forum berlangsung.
Menurutnya, setiap kandidat memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti proses sesuai aturan organisasi.
"Konferensi adalah forum demokrasi organisasi. Yang menentukan adalah aturan, forum persidangan dan suara peserta, bukan klaim atau pernyataan sepihak," tegasnya.
Harapan untuk PWI Tabagsel
Lebih jauh, Hairul Iman berharap Konferensi IX PWI Tabagsel menjadi momentum memperkuat organisasi dan bukan justru menjadi sumber perpecahan.
Ia berharap siapa pun yang nantinya terpilih sebagai Ketua PWI Tabagsel mampu merangkul seluruh anggota, meningkatkan kompetensi wartawan, memperkuat soliditas organisasi serta memperjuangkan kesejahteraan anggota.
"Yang paling penting, jangan kita rusak proses konferensi hanya karena kepentingan sesaat. Berkompetisilah secara sehat, ikuti tahapan, hormati forum, dan serahkan keputusan kepada mekanisme organisasi," pungkasnya.
Menurut Hairul Iman, marwah organisasi harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebab, Konferensi IX PWI Tabagsel bukan sekadar tentang siapa yang akan menduduki kursi ketua, tetapi tentang bagaimana seluruh anggota menentukan arah organisasi untuk periode mendatang secara demokratis, tertib dan bermartabat. (JN-Irul).
Jelang Konferensi IX PWI Tabagsel Tahun 2026, dinamika pencalonan Ketua PWI Tabagsel mulai menjadi perhatian.
Daerah
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Padangsidimpuan kini dipimpin oleh Herizal Yusuf, AMd.IP., SH., MH.
Daerah
Kantor Pertanahan (Kantah) Kota Padangsidimpuan turun langsung ke lapangan untuk memastikan data administrasi sesuai dengan kondisi fisik ta
Daerah
Ketua DPRD Kota Medan Wong Chun Sen mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan ke luar negeri dengan imingiming gaj
Politik
Anggota DPRD Kota Medan, Antonius Devolis Tumanggor, S.Sos, mengingatkan masyarakat agar memastikan data administrasi kependudukan selalu be
Politik
Babak baru dalam penguatan pelayanan pertanahan dimulai di Kantor Pertanahan (Kantah) Kota Padangsidimpuan.
Daerah
Nama Eddi Sullam Siregar masih tercantum di meja rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), meski proses pergantian antarwakt
Daerah
Pemerintah Kota Medan perlu mengevaluasi serius kinerja Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Yunita Sari dan jajaran dalam men
Daerah
Dinamika menuju Konferensi PWI Tabagsel IX Tahun 2026 mulai menghangat. Salah satu kandidat yang menyatakan kesiapan maju dalam kontestasi K
Daerah
Bursa calon Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tabagsel periode berikutnya mulai mengerucut
Daerah