Ia menyoroti perlunya skema partisipatif, pendekatan berbasis wilayah, integrasi lintas sektor, serta digitalisasi data spasial. Penguatan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) di semua tingkatan juga menjadi prioritas.
Terkait pelaksanaan Bank Tanah, Wamen Ossy menegaskan pentingnya transparansi dan keadilan sosial.
Ia mengingatkan bahwa alokasi minimal 30 persen lahan Bank Tanah untuk Reforma Agraria harus dijalankan secara terukur dan akuntabel.
"Jangan sampai Reforma Agraria dianggap sebagai agenda sekunder. Ia harus tetap menjadi prioritas dalam strategi pembangunan nasional," tegasnya.
Ketiga, ia menyoroti pentingnya pemberdayaan masyarakat sebagai bagian integral Reforma Agraria. Menurutnya, program ini tidak hanya menyangkut legalisasi aset, namun juga penguatan kapasitas penerima tanah.
"Sinergi dengan lembaga keuangan, koperasi, UMKM, dan dunia pendidikan sangat penting untuk mendukung keberlanjutan penerima manfaat Reforma Agraria," katanya.
Sumber
: <a href="<a href="Wamen ATR Apresiasi Capaian 95 Persen PTSL di Sulawesi Tengah" target="_blank"></a>" target="_blank&