Selasa, 27 Januari 2026 WIB

BETA Tembus Lumpur Angkola Sangkunur, Bantuan Datang Saat Harapan Nyaris Padam

editor - Senin, 12 Januari 2026 12:43 WIB
BETA Tembus Lumpur Angkola Sangkunur, Bantuan Datang Saat Harapan Nyaris Padam

TAPSEL | Jelajahnews.id- Tim Aliansi Batang Toru (BETA) menembus jalan berlumpur dan genangan air cokelat saat memasuki Desa Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Senin (12/1/2026) sore.

Di tengah bau banjir yang belum hilang dan trauma warga yang masih membekas, kedatangan bantuan kemanusiaan itu menjadi harapan baru bagi masyarakat terdampak luapan Sungai Batang Toru dan Sungai Malombu.

Akses menuju perkampungan belum sepenuhnya pulih. Jalan yang tergenang memaksa rombongan bergerak perlahan menggunakan satu unit mobil Triton agar bantuan tahap kedua dapat tiba dengan aman.

Bantuan yang dibawa berupa makanan kering siap konsumsi, hygiene kit, serta logistik kebutuhan dasar bagi warga yang masih berjuang bangkit pascabanjir.

Kehadiran tim organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Batang Toru Samudera, Elsaka, SRI, GJI, Walhi Sumut, OIC bersama JAMM, dan Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatera Utara disambut haru warga Desa Bandar Tarutung.

Trauma masih membekas, namun uluran tangan solidaritas menghadirkan kembali rasa optimisme.

Kepala Desa Bandar Tarutung, H. Sulhan Sihombing, menyampaikan rasa syukur mewakili warganya.

"Bantuan ini sangat berarti. Saat warga masih kebingungan melanjutkan hidup pascabanjir, kehadiran bapak dan ibu semua memberi harapan," ujarnya dengan suara bergetar.

Tim kemudian menyusuri pemukiman. Di sudut desa, ibu-ibu terlihat mencuci pakaian menggunakan air sungai yang masih keruh. Pemandangan itu membuat Ketua SHI Sumut, Hendra Hasibuan, terdiam.

"Air ini tidak layak, tapi mereka tidak punya pilihan. Ini bukan sekadar banjir, melainkan persoalan kebutuhan dasar manusia," katanya.

Sementara itu, Ketua Green Justice Indonesia (GJI), Sofyan Adli, menilai peristiwa di Angkola Sangkunur bukan hanya bencana alam semata.

"Ini pengingat bagi kita semua. Ketika alam rusak, masyarakat kecil yang pertama kali menanggung dampaknya," tegasnya.

Dari Bandar Tarutung, rombongan melanjutkan penyaluran bantuan ke Kampung Tanah Lapang, Desa Batu Godang. Di dusun ini, warga masih menyimpan kisah air bah yang datang tiba-tiba, merendam rumah dan melumpuhkan aktivitas.

Kepala Dusun Kampung Tanah Lapang, Hanto Gulo, menyambut bantuan dengan mata berkaca-kaca.

"Kami tak bisa membalas apa-apa. Hanya doa agar bapak dan ibu semua selalu diberi keselamatan," ucapnya.

Hingga kini, akses menuju Desa Bandar Tarutung masih terbatas. Perahu karet menjadi andalan warga dan pengendara roda dua, sementara kendaraan roda empat harus ekstra hati-hati melintasi genangan.

Di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, tumpukan kayu gelondongan tampak menghambat aliran sungai, bahkan membentang hingga wilayah hilir dekat Aek Rambe.

"Kalau ke ladang atau desa sebelah, kami harus memutar jauh. Sungai sudah tidak bisa dilewati," tutur seorang warga.

Bagi masyarakat Bandar Tarutung dan Kampung Tanah Lapang, bantuan BETA bukan sekadar paket logistik. Ia menjadi penanda kuat bahwa di tengah lumpur, air keruh, dan kehilangan, mereka tidak sendirian menghadapi bencana. (JN-Irul)

Editor
: Irul Daulay
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru